Kebudayaan
Budaya Barat
Dewasa ini,
kebudayaan Barat sudah mendominanisasi segala aspek. Segala hal selalu mengacu
kepada Barat. Peradaban Barat telah menguasai dunia. Banyak perubahan-perubahan
peradaban yang terjadi di penjuru dunia ini. Kebudayan Barat hanya sebagai
petaka buruk bagi Timur. Timur yang selalu berperadaban mulia, sedikit demi
sedikit mulai mengikuti kebudayaan Barat.
Secara timbal balik, tiap peradaban akan
berpengaruh satu sama lain. Hukum sosial berlaku bagi semua peradaban.
Peradaban yang maju, pada suatu masa, cenderung memiliki perngaruh yang luas
bagi peradaban-peradaban lain yang berkembang belakangan.
Dengan Menelusuri kondisi sosial di barat saat ini
akan bisa diketahui berbagai perilaku dan sikap barat terhadap dunia lain.
Sikap agresif barat terhadap dunia lain disebabkan karena ketertinggalan mereka
dahulu dengan peradaban dunia lainnya yang bergerak dinamis selama berabad –
abad dalam pergaulan antar peradaban. Sedangkan dunia barat lebih banyak
bergulat dalam dunia mereka sendiri dan terkucil dari peradaban lain di belahan
dunia. Ketertinggalan atau keterasingan itu menyebabkan terjadi jurang yang
lebar dan terjal dalam peradaban barat terhadap dunia – dunia lainnya, sehingga
pada suatu saat barat berusaha untuk menutupi jurang – jurang itu dengan
berbagai cara, termasuk didalamnya perang peradaban yang dilancarkan barat
sejak berabad – abad silam. Perang peradaban barat itu antara lain adalah usaha
barat untuk menutupi ketertingalan dan keterasingannya dengan dunia lainnya.
Disamping itu, ada kepentingan - kepentingan politiknya yang sangat agresif.
Agresifitas politik barat ini tidak disanksikan
selama berabad – abad, telah terjadi pergaulan antar bangsa dan peradaban. Dan
semua itu berlangsung dengan damai. Siapa yang ingin meniru maka tirulah, dan
siapa yang tidak ingin meniru maka hargailah. Begitulah kondisi peradaban saat
ini.
Maka dengan gencarnya, para pemuka-pemuka
kebudayaan memperkenalkan peradaban masing-masing negara. Terlebih lagi negara
barat yang selalu mempublikkan kebudayaan mereka. Maka disini penulis hanya
memaparkan pengaruh kebudayaan terhadap kebudayaan negara timur khususnya
negara kita.
A. TERHADAP ILMU PENGETAHUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada
hakikatnya diharapkan dapat membawa dampak positif bagi terciptanya masyarakat
moderen yang menghargai kebudayaan tradisionalnya. Dengan ilmu pengetahuan
masyarakat akan berubah dari kondisi sebelumnya menjadi masyarakat yang
moderen. Selain itu ilmu pengetahuan setidaknya menjadi komponen penting yang
dapat membawa masyarakat menjadi paham
mengenai apa yang hendaknya dipertahankan sebagai warisan masa lalu.
Perkembangan terknologi, terutama masuknya
kebudayaan asing (barat) tanpa disadari telah menghancurkan kebudayaan lokal.
Minimnya pengetahuan menjadi pemicu alkulturasi kebudayaan yang melahirkan
jenis kebudayaan baru. Masuknya kebudayaan tersebut tanpa disaring oleh
masyarakat dan diterima secara mentah. Akibatnya kebudayaan asli masyarakat
mengalami degradasi yang sangat luar biasa.
Dari ilmu pengetahuan yang berasal dari barat,
memang sekilas kita pandang maju dan modern, tetapi dibalik itu ada unsur
politik yang membuat kita kedalam penjajahan budaya. Seperti yang akan kita
kupas dari beberapa segi nantinya. Pada dasarnya barat ingin menguasai dunia
dengan kemajuan pemikiran mereka. Banyak cara yang mereka tempuh seperti
banyaknya teori –teori yang keliru dan belum ada titik terangnya dalam ilmu
pengetahuan. Seperti teori alam semesta, teori budaya bebas yang mengacu kepada
hak asasi manusia, dan ada pula teori politik yang membuat manusia keperadaban
yang lebih rendah.
Kemajuan pemikiran mereka bila dipandang dari segi
teknologi, memang sangat membantu kita kepada kemudahan-kemudahan hidup. Tetapi
dengan kemudahan-kemudahan itu barat juga memasuki unsur pengrusakan
budaya-budaya suatu negeri dengan kebudayaan mereka. Ada beberapa pengaruh
kebudayaan barat yang bisa kita lihat terhadap ilmu pengetahuan secara global,
yakni :
1. Dari Segi Ekonomi dan Politik
Pada akhir-akhir abad XIII penemuan-penemuan
tekhnik industri, dan berhasilnya pelayaran Colombus dan Vasco Da Gama,
memberikan bangsa eropa kekuasaan setrategis di laut samudra, hal ini
menyebabkan revolusi industri eropa menjadi penguasa ekonomi di seluruh dunia.
Dari sini, dimulailah usaha menghancurkan tata nilai dan norma-norma budaya
Islam ataupun dunia. Penjajahan dengan kekuatan militer selama berabad-berabad
tidak banyak memberikan hasil, namun dengan ekspansi industri secara massal
membuat bangsa-bangsa timur menjadi tercengang, yang menuntut perubahan cara
berfikir dan mental generasi dunia dari masa ke masa dan akhirnya tanpa
disadari kecendrungan meniru dan mempelajari metode-metode perekonomian dan
ilmu pengetahuan barat yang nota bene bertentangan dengan syari’at islam sangat
kuat.
System ekonomi sosialis dan kapitalis tidak dapat
ditolak oleh dunia timur, sehingga upaya menghilangkan system ekonomi islam
hampir berhasil dengan sempurna, penghormatan terhadap hukum riba misalnya,
telah dianggap menghambat laju perekonomian. Cengkraman perekonomian ini
semakin kuat dengan cara damai, Investasi barat dan konsesi ekonomi menjadikan
timur sebagai bangsa terjajah yang berkepanjangan. Dan sentuhan ekonomi
kolonialisme dan kapitalisme lambat laun mengacaukan etika kehidupan.
Eksploitasi kekayaan dan investasi modal seakan
menghentikan pergerakan dan peduli social budaya. Dan kekuatan-kekuatan negeri
timur takluk dan tunduk di atas kertas. Tahap ekonomi agaknya factor yang lebih
penting dan lengkap. Tetapi lebih umum penjajahan yang dimulai dengan proses
ekonomi yang esensiil, terkenal dengan “ perembesan damai “. Ia memperoleh
cengkraman finansiil dalam bentuk pinjaman dan konsesi atas negeri timur, yang
selama ini merdeka dari modal barat, yang membawa kepada terwujudnya kendali
politik. Kenyataan tersebut berlaku pada semua negeri timur, tidak terkecuali
Indonesia. Dominasi ekonomi barat sangatlah kuat, ekonomi syariah yang
berabad-abad telah diterapkan mulai terpinggirkan kedaerah pedalaman di
desa-desa terpencil. Dan orang timur mulai mencintai produk barat secara damai,
tanpa berpikir bahwa mereka akan ditelanjangi dari norma-norma dan aqidah islam.
Factor yang tak dapat di bantah, pada umumnya
orang-orang timur sendiri lebih suka membeli barang-barang produksi barat dari pada
memakai hasil negaerinya sendiri. Buat orang barat, hal ini terasa suatu
keanehan, mereka tidak mengerti, mengapa orang timur lebih suka barang-barang
buatan barat yang murah, tetapi bentuk dan mutunya yang khusus dibuat untuk
pasaran timur, dibanding dengan barang-barang buatan dalam negeri sendiri yang
lebih baik mutunya dan amat bagus buatannya. Jawabannya yang sebenarnya ialah,
oleh karena orang timur umumnya tidak mengerti tentang mutu seni barang, dan
hanya melihat kepada kemajuan teknologi dan budaya barat yang saat ini telah
mendunia.
Dari kenyataan di atas, kita tidak dapat
menafikan, bahwa mayoritas negeri timur telah terperangkap dalam penjajahan
ekonomi dan budaya, begitu pula dengan negeri ini. Contoh riil adalah di bidang
ekonomi, system ekonomi kita yang sangat keras, seakan tidak memberikan peluang
bagi usaha kecil untuk berkembang. Prinsip ekonomi ini sangat bertentangan
dengan prinsip ekonomi islam yang sangat memperhatikan aspek social dan
keadilan. Agama ini melarang praktek transaksi ekonomi yang mengganggu
keserasian hubungan antara anggota masyarakat. Di samping itu islam menetapkan
bahwa dalam harta milik pribadi terdapat hak orang yang membutuhkan yang harus
disalurkan kepada mereka, baik dalam bentuk zakat maupun sedekah dan lain
sebagainya.
Kekerasan ekonomi yang ditanamkan oleh barat telah
melupakan kita, bahwa selain bertanggung jawab kepada pemilik modal (investor)
atau pemegang saham, kita juga akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan
Allah nanti di Yaumul Qiyamah. Ini adalah bentuk penjajahan yang hingga saat
ini belum merdeka, ketimpangan-ketimpangan ekonomi dan kesenjangan social
terjadi di semua lapisan masyarakat, sebagai akibat dari maskulinitas system
perekonomian yang telah jauh menyimpang dari kaidah-kaidah islam.
2.Dari Segi Sosial dan Budaya
Jauh sebelum kebudayaan barat masuk ke bumi
pertiwi, kebudayaan kita jauh lebih berperadaban. Hidup bermasyarakat dengan
norma-norma kesusilaan telah dahulu ada di peradaban negara kita. Saat ini,
kebudayaan itu sedikit demi sedikit mulai terkikis.
Kita juga tidak dapat berpaling dari kenyataan
penjajahan budaya barat. Bahwa bangsa ini selalu demam dengan trend-trend barat
yang asusila. Satu contoh saja kita ambil. Ketika orang-orang barat
menyelenggarakan kontes ratu sejagat misalnya, maka dengan antusias Negeri
timur mendelegasikan wanita-wanita terhormatnya untuk ditelanjangi, Cuma karena
takut dikatakan terbelakang dan tidak modern. Belum lagi desain-desain busana
wanita yang sangat tidak menghargai keindahan tubuh wanita, kemolekan tubuh
wanita yang seharusnya ditutupi, dieksploitasi ke setiap sudut mata memandang.
Ini salah satu bentuk penjajahan budaya bukan? Sungguh ironis memang.
Dan yang lebih ironis lagi, Budaya berpakaian
bebas, kadang membuat generasi kita tergiur. Dari pemikiran barat yang mengacu
kepada kebebasan hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi membuat kita
ikut-ikutan. Sebagian dari kita menganggap teori hak asasi manusia ini sebagai
suatu keadilan.
Munculnya pemilihan Miss Universe sebagai ajang
internasional pada tahun 1952, motif utamanya adalah bisnis. Perusahaan Pasific
Mills menyelenggarakan acara itu untuk mempromosikan pakaian Catalina. Pada
tahun1996, Donald Trump membeli hak kepemilikan kontes ini yang kemudian
ditayangkan CBS dan pada tahun 2003 beralih ke NBC, yang tentunya sangat kental
dengan kepentingan bisnis. Demikian pula di Indonesia, kontes ratu-ratuan ini
yang dimobilisasi oleh perusahan kosmetik Mustika Ratu dan Marta Tilaar,
hanyalah untuk mempromosikan produknya, sehingga wanita Indonesia akan
tergila-gila kosmetik. (Buletin Sidogiri. hal 13 edisi 20 Rajab 1428 H).
Dikatakan “kontes tersebut diantaranya bertujuan
mendongkrak citra bangsa di hadapan dunia, bagian dari keterbukaan dan
kebebasan hak asasi, pemilihan putri tidak hanya mengandalkan kecantikan, tapi
kecerdasan dan sopan santun”. “ Perekonomian nasional bisa hancur akibat dari
UU APP ini “ ujar Poppy Darsono, penasehat Asosiasi Perancang Pengusaha Mode
Indonesia (APPMI) yang diikuti oleh Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI),
Asosiasi Pemasok Garment Aksesori Indonesia (APGAI), Pengusaha Retail Indonesia
(APRINDO), Asosiasi Manufaktur Indonesia (AMI),Asosiasi Perstektilan Indonesia
(API) dan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI). (AULA, hal: 16,
edisi April 2006).
Apapun alasan yang dijadikan justifikasi dalam
ajang tersebut hanyalah sebuah usaha menelanjangi norma-norma negeri timur dan
usaha melegitiminasi penjajahan terhadap budaya islam. Karena mendongkrak citra
bangsa, kebebasan hak asasi, kecerdasan suatu bangsa dan sopan santun ataupun
peradaban yang modern tidak bisa dipresentasikan dengan seorang gadis atau
wanita yang tidak punya rasa malu untuk telanjang di hadapan dunia. Ini adalah
bukti kebodohan yang tidak pernah mengerti tentang tata nilai dan kehormatan
sebuah bangsa.
B. TERHADAP KEBUDAYAAN TRADISIONAL
Seiring perkembangan zaman, era masyarakat modern
kini cenderung lebih mengakar pada budaya Barat yang dianggap lebih
berkualitas. Semangat zaman dengan pengaruh Barat ini, sudah dianggap sebagai
ciri kemodernan atau sebagian dari ekspresi kebudayaan terkini.
Berdasarkan atas peristiwa paradigma budaya yang
ada di daerah kita, kita harus prihatin dan juga perlu memberi buah pikir
kepada masyarakat tentang budaya daerah lokal sangatlah penting. Dengan
demikian kita dapat meneladani para nenek moyang kita terdahulu yang telah
susah payah membuat suatu budaya yang telah tercipta dan tidak terpikirkan oleh
kita betapa sulitnya membuat budaya yag mempunyai nilai estetika yang tinggi.
Melihat fenomena Indonesia bahwa tentang
modernisasi, dan pengaruh Negara maju. Banyak efek atas keberlangsungan
pembangunan Indonesia. Secara system memang Indonesia sudah lebih maju, namun
dari kemajuan itu baik dari pendidikan,social, dan tekhnologi. Para pelakunya
tidak pernah memperhatikan efek dari kemajuan itu, utamanya bagi masyarakat
yang belum siap mengikutinya dan juga para generasi muda.
Jelas SDA dan SDM akan semakin lemah dan berkurang
karena didalam pembagunan itu sendiri konteks Indonesia tidak memperhatikan
etika pembangunan. Bahkan adanya tuntutan kemajuan semakin lama semakin tidak
bisa mengelola dan mengaturnya. Contoh satu juga kita ambil seperti pemilihan
Presiden. Ternyata uang yang banyak dibuang secara sia-sia. Mengapa uang itu
tidak untuk pemberdayaan masyarakat. Artinya pemilu demokrasi sah-sah saja akan
tetapi jangan terlau banyak mengeluarkan uang Negara hanya untuk acara yang
sesaat.
Negara kita yang dikategorikan negara berkembang
sebenarnya belum siap dengan kemajuan yang berasal dari pemikiran barat. Barat
yang dengan seluruh kebudayaannya mendukung berjalan kemajuan mereka. Tetapi
kita yang masih memakai kebudayaan timur, dan sedikit banyaknya telah tersusupi
oleh pemikiran barat malah menjadi kacau balau. Masyarakat belum siap menghadapi
perubahan sosial.
Masuknya modernisme dan hegemoni Negara adidaya
yang masuk ke-Indonesia menjadikan budaya yang tercipta di Indonesia kini sudah
seakan-akan mulai luntur, berbagai kesempatan orang asing memasuki Indonesia,
mengakibatkan terberangusnya budaya yang ada (tradisonal) seperti gotong
royong, norma-norma, etika, estetika alam dan solidaritas terkikis
perlahan-lahan sehingga terjadi renggangnya budaya kebersamaan.
Budaya barat yang di bawa oleh orang barat
mengakibatkan orang Indonesia terluluh lantahkan untuk mengikuti budaya
tersebut. Pola hidup yang sifatnya sesaat, nafsu dunia, mengakibatkan
dekadensi, baik moral, seni dan lainya. Budaya tradisional akhirnya kalah
menarik, mereka lebih tertarik mengembangkan budaya asing yang serba seksi dan
enggan dengan budaya yang kuno ( tradisional). Makanya tidak salah dibalik
kemajuan Indonesia sebetulnya mengalami kemunduran terutama dibidang SDA dan
SDM-nya. Karena tidak ada perkiraan dalam jangka panjang ( kurangnya etika
dalam pengelolaan dan pelestarian itu sendiri).
Padahal yang tradisional jika masyarakat bisa
berfikir dengan akal sehatnya bahwa budaya yang tradisional apabila
dikembangkan maka mampu menarik budaya disekitarnya untuk mengikutinya. Dengan
rasioalisasinya menjaga dan terus melestarikan budaya itu. Namun tidak
sepenuhnya dengan mempertahankan budaya yang ada akan mampu menciptakan
perubahan. Karena kita tau ada kemungkinan terciptanya sebuah perubahan lewat
dua factor penting ini, pertama faktor internal, kedua faktor eksternal.
Indonesia mendambakan pembangunan baik ekonomi,
pendidikan, stabilitas social dan politik. Secara umum Pembangunan adalah
merupakan suatu upaya bagaiamana memajukan suatu tempat sehingga strata dengan
tempat yang sudah dianggap maju. Baik itu ekonomi, pendidikan, politik, dan
budaya. Seperti di Negara Eropa, cina dan Negara yang berkembang lainya. Ketika
kita mencoba melihat pada daerah terpencil ( desa-desa) yang hanya bisa melihat
sebuah perkembangan sains dan tekhnologi. Maka pembangunan dianggap suatu
malapetaka. Mengapa malapetaka, karena ia mempunyai asumsi dasar bahwa sulit
untuk mengikuti pola hidupnya. Terutama dalam dunia pendidikan, disebabkan
karena ekonomi lemah. Pembangunan yang memiliki orientasi materi maka seseorang
atau masyarakat untuk mengikuti negara yang sudah maju terutama dibidang
ekonomi maka dibutuhkan kreatifitas yang tinggi pada setiap personal. Tangguh,
siapa bermain dan bersaing didunia modern ini.
Budaya asing yang masuk keindonesia menyebabkan
multi efek. Budaya keindonesiaan perlahan-lahan semakin punah.berbagai iklan
yang mengantarkan kita untuk hidup gaul dalam konteks modern dan tidak
trsdisional sehingga memunculkan banyaknya kepenctingan para individu yang
mengharuskan berada diatas kepentingan orang lain. sehingga yang terjadi sifat
individualisme semakin berpeluang untuk menjadi budaya kesehariannya. Ini semua
sebenarnya terhantui akan praktik budaya yang sifatnya hanya memuaskan
kehidupan semata.
Dalam teori modernisasi dinyatakan bahwa setiap
Negara harus melakukan spesialisasi produksi sesuai dengan keuntungan
komfaratif yang dimilikinya. Negara-negara dikatulistiwa yang tanahnya subur,
misalnya, lebih baik melakukan spesialisasi dibidang produksi pertanian.
Sedangkan dibumi sebelah utara, yang iklimnya tidak cocok untuk pertanian,
sebaiknya melakukan spesialisasi produksi dibidang Industri.Mereka harus
mengembangkan tekhnologi, untuk menciptakan keunggulan komparatif bagi negrinya.
Ada dua permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat
dunia, termasuk didalamnya Indonesia yaitu masalah sosial politk dan masalah
ekonomi. Maka dari dua masalah ini sangat rumit untuk diselesaikan dikarenakan
banyaknya kepentingan yang terselubung dalam masalah diatas maka tidak salah
ada sebuah ungkapan dalam suatu masyarakat yang menginginkan kesejahteraan.
Bahwa masyarakat akan percaya pada pemerintah apabila ia mampu mejaga
kestabilan ekonomi yang secara generalnya mampu menjaga proses jalannya ekonomi
itu sendiri lebih lebih dalam suaka politik yang didalamnya berbagai
kepentingan terselubung bahkan dalam politik ini membutuhkan kejelian dankejeniusan
dalam melihat sebuah fenomena baik itu kaitannya politik, budaya, ekonomi,
pendidikan dan lain sebagainya. Semua itu mempunyai misi yang sama ingin
menciptakan sebuah perubahan. Walaupun cara yang ia gunakan sangat beragam.
Pada akhirnya, sejarahlah yang akan membuktikannya nanti.
Kebudayaan Hindu
Budha di Indonesia
Pada
permulaan tarikh masehi, di Benua Asia terdapat dua negeri besar yang tingkat
peradabannya dianggap sudah tinggi, yaitu India dan Cina. Kedua negeri ini
menjalin hubungan ekonomi dan perdagangan yang baik. Arus lalu lintas
perdagangan dan pelayaran berlangsung melalui jalan darat dan laut. Salah satu
jalur lalu lintas laut yang dilewati India-Cina adalah Selat Malaka. Indonesia
yang terletak di jalur posisi silang dua benua dan dua samudera, serta berada
di dekat Selat Malaka memiliki keuntungan, yaitu:
- Sering dikunjungi
bangsa-bangsa asing, seperti India, Cina, Arab, dan Persia,
- Kesempatan melakukan
hubungan perdagangan internasional terbuka lebar,
- Pergaulan dengan
bangsa-bangsa lain semakin luas, dan
- Pengaruh asing masuk
ke Indonesia, seperti Hindu-Budha.
Keterlibatan
bangsa Indonesia dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran internasional
menyebabkan timbulnya percampuran budaya. India merupakan negara pertama yang
memberikan pengaruh kepada Indonesia, yaitu dalam bentuk budaya Hindu. Ada
beberapa hipotesis yang dikemukakan para ahli tentang proses masuknya budaya
Hindu-Buddha ke Indonesia.
1.
Hipotesis Brahmana
Hipotesis
ini mengungkapkan bahwa kaum brahmana amat berperan dalam upaya penyebaran
budaya Hindu di Indonesia. Para brahmana mendapat undangan dari penguasa
Indonesia untuk menobatkan raja dan memimpin upacara-upacara keagamaan.
Pendukung hipotesis ini adalah Van Leur.
2.
Hipotesis Ksatria
Pada
hipotesis ksatria, peranan penyebaran agama dan budaya Hindu dilakukan oleh
kaum ksatria. Menurut hipotesis ini, di masa lampau di India sering terjadi
peperangan antargolongan di dalam masyarakat. Para prajurit yang kalah atau
jenuh menghadapi perang, lantas meninggalkan India. Rupanya, diantara mereka
ada pula yang sampai ke wilayah Indonesia. Mereka inilah yang kemudian berusaha
mendirikan koloni-koloni baru sebagai tempat tinggalnya. Di tempat itu pula
terjadi proses penyebaran agama dan budaya Hindu. F.D.K. Bosch adalah salah
seorang pendukung hipotesis ksatria.
3.
Hipotesis Waisya
Menurut
para pendukung hipotesis waisya, kaum waisya yang berasal dari kelompok
pedagang telah berperan dalam menyebarkan budaya Hindu ke Nusantara. Para
pedagang banyak berhubungan dengan para penguasa beserta rakyatnya. Jalinan
hubungan itu telah membuka peluang bagi terjadinya proses penyebaran budaya
Hindu. N.J. Krom adalah salah satu pendukung dari hipotesis waisya.
4.
Hipotesis Sudra
Von
van Faber mengungkapkan bahwa peperangan yang tejadi di India telah menyebabkan
golongan sudra menjadi orang buangan. Mereka kemudian meninggalkan India dengan
mengikuti kaum waisya. Dengan jumlah yang besar, diduga golongan sudralah yang
memberi andil dalam penyebaran budaya Hindu ke Nusantara.
Selain
pendapat di atas, para ahli menduga banyak pemuda di wilayah Indonesia yang
belajar agama Hindu dan Buddha ke India. Di perantauan mereka mendirikan
organisasi yang disebut Sanggha. Setelah memperoleh ilmu yang banyak, mereka
kembali untuk menyebarkannya. Pendapat semacam ini disebut Teori Arus Balik.
Pada
umumnya para ahli cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa masuknya
budaya Hindu ke Indonesia itu dibawa dan disebarluaskan oleh orang-orang
Indonesia sendiri. Bukti tertua pengaruh budaya India di Indonesia adalah
penemuan arca perunggu Buddha di daerah Sempaga (Sulawesi Selatan). Dilihat
dari bentuknya, arca ini mempunyai langgam yang sama dengan arca yang dibuat di
Amarawati (India). Para ahli memperkirakan, arca Buddha tersebut merupakan barang
dagangan atau barang persembahan untuk bangunan suci agama Buddha. Selain itu,
banyak pula ditemukan prasasti tertua dalam bahasa Sanskerta dan Malayu kuno.
Berita yang disampaikan prasasti-prasasti itu memberi petunjuk bahwa budaya
Hindu menyebar di Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi.
Masuknya
pengaruh unsur kebudayaan Hindu-Buddha dari India telah mengubah dan menambah
khasanah budaya Indonesia dalam beberapa aspek kehidupan.
1.
Agama
Ketika
memasuki zaman sejarah, masyarakat di Indonesia telah menganut kepercayaan
animisme dan dinamisme. Masyarakat mulai menerima sistem kepercayaan baru,
yaitu agama Hindu-Buddha sejak berinteraksi dengan orang-orang India. Budaya
baru tersebut membawa perubahan pada kehidupan keagamaan, misalnya dalam hal
tata krama, upacara-upacara pemujaan, dan bentuk tempat peribadatan.
2.
Pemerintahan
Sistem
pemerintahan kerajaan dikenalkan oleh orang-orang India. Dalam sistem ini
kelompok-kelompok kecil masyarakat bersatu dengan kepemilikan wilayah yang
luas. Kepala suku yang terbaik dan terkuat berhak atas tampuk kekuasaan
kerajaan. Oleh karena itu, lahir kerajaan-kerajaan, seperti Kutai,
Tarumanegara, dan Sriwijaya.
3.
Arsitektur
Salah
satu tradisi megalitikum adalah bangunan punden berundak-undak. Tradisi
tersebut berpadu dengan budaya India yang mengilhami pembuatan bangunan candi.
Jika kita memperhatikan Candi Borobudur, akan terlihat bahwa bangunannya
berbentuk limas yang berundak-undak. Hal ini menjadi bukti adanya paduan budaya
India-Indonesia.
4.
Bahasa
Kerajaan-kerajaan
Hindu-Buddha di Indonesia meninggalkan beberapa prasasti yang sebagian besar
berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Dalam perkembangan selanjutnya bahkan
hingga saat ini, bahasa Indonesia memperkaya diri dengan bahasa Sanskerta itu.
Kalimat atau kata-kata bahasa Indonesia yang merupakan hasil serapan dari
bahasa Sanskerta, yaitu Pancasila, Dasa Dharma, Kartika Eka Paksi, Parasamya
Purnakarya Nugraha, dan sebagainya.
5.
Sastra
Berkembangnya
pengaruh India di Indonesia membawa kemajuan besar dalam bidang sastra. Karya
sastra terkenal yang mereka bawa adalah kitab Ramayana dan Mahabharata. Adanya
kitab-kitab itu memacu para pujangga Indonesia untuk menghasilkan karya
sendiri. Karya-karya sastra yang muncul di Indonesia adalah:
- Arjunawiwaha, karya
Mpu Kanwa,
- Sutasoma, karya Mpu
Tantular, dan
- Negarakertagama, karya
Mpu Prapanca.
Agama
Hindu
Agama
Hindu berkembang di India pada ± tahun 1500 SM. Sumber ajaran Hindu terdapat
dalam kitab sucinya yaitu Weda. Kitab Weda terdiri atas 4 Samhita atau
“himpunan” yaitu:
- Reg Weda, berisi syair
puji-pujian kepada para dewa.
- Sama Weda, berisi
nyanyian-nyanyian suci.
- Yajur Weda, berisi
mantera-mantera untuk upacara keselamatan.
- Atharwa Weda, berisi
doa-doa untuk penyembuhan penyakit.
Di
samping kitab Weda, umat Hindu juga memiliki kitab suci lainnya yaitu:
- Kitab Brahmana, berisi
ajaran tentang hal-hal sesaji.
- Kitab Upanishad,
berisi ajaran ketuhanan dan makna hidup.
Agama
Hindu menganut polytheisme (menyembah banyak dewa), diantaranya Trimurti atau
“Kesatuan Tiga Dewa Tertinggi” yaitu:
- Dewa Brahmana, sebagai
dewa pencipta.
- Dewa Wisnu, sebagai
dewa pemelihara dan pelindung.
- Dewa Siwa, sebagai
dewa perusak.
Selain
Dewa Trimurti, ada pula dewa yang banyak dipuja yaitu Dewa Indra pembawa hujan
yang sangat penting untuk pertanian, serta Dewa Agni (api) yang berguna untuk
memasak dan upacara-upacara keagamaan. Menurut agama Hindu masyarakat dibedakan
menjadi 4 tingkatan atau kasta yang disebut Caturwarna yaitu:
- Kasta Brahmana,
terdiri dari para pendeta.
- Kasta Ksatria, terdiri
dari raja, keluarga raja, dan bangsawan.
- Kasta Waisya, terdiri
dari para pedagang, dan buruh menengah.
- Kasta Sudra, terdiri
dari para petani, buruh kecil, dan budak.
Selain
4 kasta tersebut terdapat pula golongan pharia atau candala, yaitu orang di
luar kasta yang telah melanggar aturan-aturan kasta.
Orang-orang
Hindu memilih tempat yang dianggap suci misalnya, Benares sebagai tempat
bersemayamnya Dewa Siwa serta Sungai Gangga yang airnya dapat mensucikan dosa
umat Hindu, sehingga bisa mencapai puncak nirwana.
Agama
Buddha
Agama
Buddha diajarkan oleh Sidharta Gautama di India pada tahun ± 531 SM. Ayahnya
seorang raja bernama Sudhodana dan ibunya Dewi Maya. Buddha artinya orang yang
telah sadar dan ingin melepaskan diri dari samsara.
Kitab
suci agama Buddha yaitu Tripittaka artinya “Tiga Keranjang” yang ditulis dengan
bahasa Poli. Adapun yang dimaksud dengan Tiga Keranjang adalah:
- Winayapittaka : Berisi
peraturan-peraturan dan hukum yang harus dijalankan oleh umat Buddha.
- Sutrantapittaka :
Berisi wejangan-wejangan atau ajaran dari sang Buddha.
- Abhidarmapittaka :
Berisi penjelasan tentang soal-soal keagamaan.
Pemeluk
Buddha wajib melaksanakan Tri Dharma atau “Tiga Kebaktian” yaitu:
- Buddha yaitu berbakti
kepada Buddha.
- Dharma yaitu berbakti
kepada ajaran-ajaran Buddha.
- Sangga yaitu berbakti
kepada pemeluk-pemeluk Buddha.
Disamping
itu agar orang dapat mencapai nirwana harus mengikuti 8 (delapan) jalan
kebenaran atau Astavidha yaitu:
- Pandangan yang benar.
- Niat yang benar.
- Perkataan yang benar.
- Perbuatan yang benar.
- Penghidupan yang
benar.
- Usaha yang benar.
- Perhatian yang benar.
- Bersemedi yang benar.
Karena
munculnya berbagai penafsiran dari ajaran Buddha, akhirnya menumbuhkan dua
aliran dalam agama Buddha yaitu:
- Buddha Hinayana, yaitu
setiap orang dapat mencapai nirwana atas usahanya sendiri.
- Buddha Mahayana, yaitu
orang dapat mencapai nirwana dengan usaha bersama dan saling membantu.
Pemeluk
Buddha juga memiliki tempat-tempat yang dianggap suci dan keramat yaitu:
- Kapilawastu, yaitu
tempat lahirnya Sang Buddha.
- Bodh Gaya, yaitu
tempat Sang Buddha bersemedi dan memperoleh Bodhi.
- Sarnath/ Benares,
yaitu tempat Sang Buddha mengajarkan ajarannya pertama kali.
- Kusinagara, yaitu
tempat wafatnya Sang Buddha.
Kebudayaan Islam
1. PENGERTIAN KEBUDAYAAN
Di dalam Kamus Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa: “ budaya “ adalah pikiran,
akal budi, adat istiadat. Sedang “ kebudayaan” adalah hasil kegiatan dan
penciptaan batin ( akal budi ) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat
istiadat
Untuk memudahkan pembahasan, Ernst Cassirer membaginya menjadi lima aspek : 1.
Kehidupan Spritual 2. Bahasa dan Kesustraan 3. Kesenian 4. Sejarah 5. Ilmu
Pengetahuan.
Hubungan Islam dan Budaya
Sebagian ahli kebudayaan memandang bahwa kecenderungan untuk berbudaya
merupakan dinamik ilahi. Bahkan menurut Hegel, keseluruhan karya sadar insani
yang berupa ilmu, tata hukum, tatanegara, kesenian, dan filsafat tak lain
daripada proses realisasidiri dari roh ilahi. Sebaliknya sebagian ahli, seperti
Pater Jan Bakker, dalam bukunya “Filsafat Kebudayaan” menyatakan bahwa tidak
ada hubungannya antara agama dan budaya, karena menurutnya, bahwa agama merupakan
keyakinan hidup rohaninya pemeluknya, sebagai jawaban atas panggilan ilahi.
Keyakinan ini disebut Iman, dan Iman merupakan pemberian dari Tuhan, sedang
kebudayaan merupakan karya manusia. Sehingga keduanya tidak bisa ditemukan.
Adapun menurut para ahli Antropologi, sebagaimana yang diungkapkan oleh Drs.
Heddy S. A. Putra, MA bahwa agama merupakan salah satu unsur kebudayaan..
Untuk melihat manusia dan kebudayaannya, Islam tidaklah memandangnya dari satu
sisi saja. Islam memandang bahwa manusia mempunyai dua unsur penting, yaitu
unsur tanah dan unsur ruh yang ditiupkan Allah kedalam tubuhnya. Ini sangat
terlihat jelas di dalam firman Allah Qs As Sajdah 7-9 : “ ( Allah)-lah Yang
memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menciptakan keturunannya
dari saripati air yan hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan
meniupkan ke dalam ( tubuh )-nya roh ( ciptaan)-Nya”
Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu beramal dan berkarya, untuk
selalu menggunakan pikiran yang diberikan Allah untuk mengolah alam dunia ini
menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan manusia. Dengan demikian,
Islam telah berperan sebagai pendorong manusia untuk “ berbudaya “. Dan dalam
satu waktu Islamlah yang meletakkan kaidah, norma dan pedoman. Sampai disini,
mungkin bisa dikatakan bahwa kebudayaan itu sendiri, berasal dari agama.
2. KONSEP KEBUDAYAAN DALAM ISLAM
Nabi Muhammad S.A.W merupakan teladan yang baik sekali dalam melaksanakan
kebudayaan seperti dilukiskan Qur'an itu, bahwa bagaimana rasa persaudaraannya
terhadap seluruh umat manusia dengan cara yang sangat tinggi dan
sungguh-sungguh itu dilaksanakan. Saudara-saudaranya di Mekah semua sama dengan
dia sendiri dalam menanggung duka dan sengsara. Bahkan dia sendiri yang lebih
banyak menanggungnya. Sesudah hijrah ke Medinah, dipersaudarakannya orang-orang
Muhajirin dengan Anshar demikian rupa, sehingga mereka berada dalam status
saudara sedarah. Persaudaraan sesama orang-orang beriman secara umum itu adalah
persaudaraan kasih-sayang untuk membangun suatu sendi kebudayaan yang masih
muda waktu itu. Yang memperkuat persaudaraan ini ialah keimanan yang sungguh-sungguh
kepada Allah dengan demikian kuatnya sehingga dibawanya Muhammad kedalam
komunikasi dengan Tuhan, Zat Yang Maha Agung.
3. PRINSIP-PRINSIP KEBUDAYAAN ISLAM
Islam, datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepada kehidupan
yang baik dan seimbang. Dengan demikian Islam tidaklah datang untuk
menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat, akan tetapi dalam
waktu yang bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan
terhindar dari hal-hal yang yang tidak bermanfaat dan membawa madlarat di dalam
kehidupannya, sehingga Islam perlu meluruskan dan membimbing kebudayaan yang
berkembang di masyarakat menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta
mempertinggi derajat kemanusiaan.
Prinsip semacam ini, sebenarnya telah menjiwai isi Undang-undang Dasar Negara
Indonesia, pasal 32, walaupun secara praktik dan perinciannya terdapat
perbedaan-perbedaan yang sangat menyolok. Dalam penjelasan UUD pasal 32,
disebutkan : “ Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan
persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang
dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta
mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Idonesia “.
Dari situ, Islam telah membagi budaya menjadi tiga macam :
Pertama : Kebudayaan yang tidak bertentangan dengan Islam.
seperti ; kadar besar kecilnya mahar dalam pernikahan, di dalam masyarakat
Aceh, umpamanya, keluarga wanita biasanya, menentukan jumlah mas kawin sekitar
50-100 gram emas.
Kedua : Kebudayaan yang sebagian unsurnya bertentangan dengan Islam ,
Contoh yang paling jelas, adalah tradisi Jahiliyah yang melakukan ibadah haji
dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Islam , seperti lafadh “
talbiyah “ yang sarat dengan kesyirikan, thowaf di Ka’bah dengan telanjang.
Ketiga : Kebudayaan yang bertentangan dengan Islam.
Seperti, budaya “ ngaben “ yang dilakukan oleh masyarakat Bali.
4. SEJARAH INTELEKTUAL ISLAM
Diskusi sains dan Islam ada baiknya dimulai dari satu peristiwa monumental yang
menandai lahirnya sains modern, yakni Revolusi Ilmiah pada abad ke 17 di Eropa
Barat yang menjadi “cikal bakal” munculnya sains moderns sebagai sistem
pengetahuan “universal.” Dalam historiografi sains, salah satu pertanyaan besar
yang selalu menjadi daya tarik adalah: Mengapa Revolusi Ilmiah tersebut tidak
terjadi di peradaban Islam yang mengalami masa kejayaan berabad-abad sebelum
bangsa Eropa membangun sistem pengetahuan mereka?
Sekarang mari kita menengok ke sejarah yang lebih awal tentang peradaban Islam
dan sistem pengetahuan yang dibangunnya. Catatan A.I. Sabra dapat kita jadikan
salah satu pegangan untuk melihat kontribusi peradaban Islam dalam sains. Dalam
pengamatannya, peradaban Islam memang mengimpor tradisi intelektual dari
peradaban Yunani Klasik. Tetapi proses ini tidak dilakukan begitu saja secara
pasif, melainkan dilakukan melalui proses appropriation atau penyesuaian dengan
nilai-nilai Islam. Dengan demikian peradaban Islam mampu mengambil, mengolah,
dan memproduksi suatu sistem pengetahuan yang baru, unik, dan terpadu yang
tidak tidak pernah ada sebelumnya. Ada dua hal yang dicatat Sabra sebagai
kontribusi signifikan peradaban Islam dalam sains. Pertama adalah dalam tingkat
pemikiran ilmiah yang diilhami oleh kebutuhan dalam sistem kepercayaan Islam.
Penentuan arah kiblat secara akurat adalah salah satu hasil dari konjungsi ini.
Kedua dalam tingkat institusionalisasi sains. Sabra merujuk pada empat
institusi penting bagi perkembamgan sains yang pertama kali muncul dalam
peradaban Islam, yaitu rumah sakit, perpustakaan umum, sekolah tinggi, dan
observatorium astronomi. Semua kemajuan yang dicapai ini dimungkinkan oleh
dukungan dari penguasa pada waktu itu dalam bentuk pendanaan dan penghargaan
terhadap tradisi ilmiah.
Lalu mengapa sains dalam peradaban Islam tidak berhasil mempertahankan
kontinyuitasnya, gagal mencapai titik Revolusi Ilmiah, dan justru mengalami
penurunan? Salah satu tesis yang menarik datang dari Aydin Sadili. Seperti
dijelaskan di atas bahwa keunikan sains dalam Islam adalah masuknya unsur agama
dalam sistem pengetahuan. Tetapi, menurut Sadili, disini jugalah penyebab
kegagalan peradaban Islam mencapai Revolusi Ilmiah. Dalam asumsi Sadili,
tradisi intelektual Yunani Klasik yang diwarisi oleh peradaban Islam baru dapat
menghasilkan kemajuan ilmiah jika terjadi proses rekonsiliasi dengan kekuatan
agama. Rekonsiliasi antara sains dan agama tersebut terjadi di peradaban Eropa,
tetapi tidak terjadi di peradaban Islam.
5. MASJID SEBAGAI PUSAT PERADABAN ISLAM
Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Proses menuju ke arah pemberdayaan umat dimulai dengan pendidikan dan pemberian
pelatihan-pelatihan. Masjid seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai tempat
berlangsungnya proses pemberdayaan tersebut, bahkan sebagai pusat pembelajaran
umat, baik dalam bentuk pengajian, pengkajian, seminar dan diskusi maupun
pelatihan-pelatihan keterampilan, dengan peserta minimal jamaah disekitarnya.
Pusat Perekonomian Umat
Soko guru perekonomian Indonesia katanya koperasi, namun pada kenyataannya
justru koperasi menjadi barang yang tidak laku. tidak ada salahnya bila masjid
mengambil alih peran sebagai koperasi yang membawa dampak positif bagi umat di
lingkungannya. Bila konsep koperasi digabungkan dengan konsep perdagangan ala
pusat-pusat pembelanjaan yang diminati karena terjangkaunya harga barang, dan
dikelola secara professional oleh dewan pengurus maka masjid akan dapat
memakmurkan jamaahnya. Sehingga akhirnya jamaahnya pun akan memakmurkan
masjidnya.
Pusat Penjaringan Potensi Umat
Masjid dengan jamaah yang selalu hadir HANYA sekedar untuk menggugurkan
kewajibannya terhadap Tuhan bisa saja mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan
orang jumlahnya. Masjid dengan jamaah yang selalu hadir sekedar untuk
menggugurkan kewajibannya terhadap Tuhan bisa saja mencapai puluhan, ratusan
bahkan ribuan orang jumlahnya. Dari berbagai macam usia, beraneka profesi dan
tingkat (strata) baik ekonomi maupun intelektual, bahkan sebagai tempat
berlangsungnya akulturasi budaya secara santun.
Pusat Ke-Pustakaan
Perintah pertama Tuhan kepada Nabi terakhir adalah "Membaca", dan
sudah sepatutnya kaum muslim gemar membaca dalam pengertian konseptual maupun
kontekstual. Maka dengan sendirinya hampir menjadi kemutlakkan bila masjid
memiliki perpustakaan sendiri.
6. KESIMPULAN
Untuk membangkitkan kembali peradaban sangat tergantung pada keberhasilan dalam
bidang sains melalui prestasi institusional dan epistemologis menuju pada
proses dekonstruksi epistemologi sains moderen yang memungkinkan nilai-nilai
Islam terserap secara seimbang ke dalam sistem pengetahuan yang dibangun tanpa
harus menjadikan sains sebagai alat legitimasi agama dan sebaliknya. Ini
sejalan dengan gagasan islamisasi pengetahuan yang pernah dilontarkan oleh
Ismail Raji Al-faruqi.
Mengapa masyarakat Islam perlu melakukan reformasi sains moderen? Bukankah
sains moderen telah begitu banyak memberikan manfaat bagi manusia? Pernyataan
ini mungkin benar jika kita melihat tanpa sikap kritis bagaimana sains moderen
membuat kehidupan (sekelompok) manusia menjadi lebih sejahtera. Argumen yang
masuk akal datang dari Sal Restivo yang mengungkap bagaimana sains moderen
adalah sebuah masalah sosial karena lahir dari sistem masyarakat moderen yang
cacat. Secara historispun kita bisa memahami bagaimana sains moderen lahir
sebagai mesin eksploitasi sistem kapitalisme. Paul Feyerabend bahkan mengkritik
sains moderen sebagai ancaman terhadap nilai-nilai demokrasi, kualitas hidup
manusia, dan bahkan kelangsungan hidup bumi beserta isinya. Dalam kondisisi
seperti ini, Islam semestinya dapat menjadi suatu alternatif dalam
mengembangkan sains ke arah yang lebih bijak.
Insya Allah
referensi : http://nazaruddinariadi.blogspot.com/2012/11/kebudayaan.html
0 komentar: